You’re not alone pt.2

Baca lebih lanjut

You’re Not Alone

Pagi ini gue makan bubur di perempatan Ramdhan. Memang pengin sarapan bubur  sekalian menukar uang biar jadi pecahan kecil buat ongkos Damri. Karena ingin mengejar berangkat ke Jatinangor maksimal pukul 8 (bahkan kalau bisa berangkat sebelum jam 8), gue memutuskan naik angkot. Tarif angkotnya dua ribu. Gak apa-apalah (padahal waktu zaman SMP-SMA benar-benar berpikir gak worth banget naik angkot ke tempat yang sama dengan tarif dua ribu).

Daaan… OMG DAMRI! Gue masih di dalam angkot 23 di daerah zebra cross depan Patung Ikan dan Damri lewat di depan mata! ASDFGHJKL! Baca lebih lanjut

1/15

Alhamdulillah hari ini aku bisa menyelesaikan usaha 1/15. Seharusnya bisa benar-benar 1/15. Tapi, aku sudah berusaha 1/15 dan akan terus melancarkan 1/15 hingga sungguh-sungguh 1/15. Berikutnya adalah 1/10. Semoga sukses! Semoga Allah Swt. meridhoi usahaku ini. Aamiin.

Keping Ingatan Sang Putri

Sebuah senyuman menghiasi wajah Sang Putri saat membaca perkamen-perkamen yang ditulisnya. Perkamen-perkamen tersebut bukan hanya kumpulan tulisannya akhir-akhir ini, tapi tulisannya sejak beberapa tahun silam. Sudah lama, tapi tulisan-tulisannya di masa silam memiliki jiwa yang sama seperti tulisannya di masa kini. Dari tulisan-tulisannya, ada banyak hal yang ingin Sang Putri wujudkan. Dalam tulisannya Sang Putri memaparkan bahwa ia akan berusaha semaksimal kemampuannya untuk mewujudkan impiannya. Pertanyaan ‘apa aku bisa?’ atau ‘apa aku mampu menghadapinya?’ tak luput dari tulisan Sang Putri. Namun, Sang Putri kembali menjawab dalam tulisannya, ‘aku tak akan tahu jika tak mencobanya’ atau ‘aku hanya perlu memulai untuk mampu menghadapinya’. Sungguh berani dan percaya diri.

Sang Putri menyeringai mengingat kenangan keberaniannya. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk duduk memeluk lutut di pojok labirin. Ia harus bergerak. Ia harus memulai untuk mampu menghadapi tantangan Sang Labirin. Ia harus mencoba segala usaha untuk menyelesaikan tantangan Sang Labirin. Di tempat yang berbeda, Sang Waktu berjalan cepat menuju tujuannya. Sang Putri harus tiba tepat waktu, seperti halnya Sang Waktu. Sang Putri mengangkat kepalanya, menatap dinding-dinding labirin yang tampak tak berujung. Ia bangkit berdiri, tak peduli dengan gaunnya yang sudah lusuh. Sang Putri mengepalkan kedua telapak tangannya, mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi tantangan Sang Labirin.

“Teruslah melangkah di jalan yang kau pilih,

… diriku.”

 

 

.

.

.

.

.

.

.

.

Good luck!