Suatu Kongko Ilmiah

Suatu sore ku mendapat sms dari nomor yang samar ku kenal. Saat itu kartu nomorku berada dalam modem yang sedang on sehingga pengirim sms tanpa nama, hanya berupa nomor. Beberapa nomor ku kenal karena sering berkirim pesan, sisanya terkadang ku pura-pura akrab padahal dalam hati menerka-nerka siapa si pengirim sms. Nah, sms yang ku dapat sore itu berisi sapaan kabar dan ajakan untuk kongko saat akhir pekan. Setelah mengamati nomor pengirim dengan saksama, ku yakin betul bahwa pengirim pesan tersebut adalah sahabatku yang sudah cukup lama kami tak bersua karena aktivitas pekerjaan. Sampai deal waktu dan tempat kongko sebenarnya ku masih menerka apakah pengirim pesan tersebut sama seperti yang kupikir atau bukan. Pada akhirnya ku kembalikan kartu nomor ke telepon seluler kemudian mengecek pemilik nomor si pengirim pesan. Ternyata, tebakanku benar. Pemilik nomor tersebut adalah sahabat yang ku maksud dalam pikiranku. It’s been a long time and I‘m glad to see my dearest friends.

Baca lebih lanjut

Iklan

The Beginning: Become A Teacher

Kalau aku ditanya waktu kecil cita-citanya ingin jadi apa, tanpa ragu aku jawab: Guru. Yapz, guru adalah cita-cita pertama yang aku sebut sebelum menjadi dokter atau presiden. Aku ingat banget: jadi guru itu fix, jadi dokter itu biar terlihat keren, jadi presiden itu karena aku ingin mengatur negara ini biar lebih keren. Saat aku SMP, cita-citaku adalah menjadi presiden NKRI dan menjadi guru/dosen: itu FIX. Sampai saat ini pun kedua cita-cita itu tetap menjadi peganganku. Tapi cita-cita menjadi guru itu lebih dekat denganku sekarang sambil memupuk diri hingga mumpuni menjadi seorang pemimpin sekaliber presiden.

Saat tahun terakhirku di SMA, anak-anak pada sibuk mau jadi dokter, mau kuliah di universitas ini-itu, mau kuliah di institut ini-itu, dan aku cukup terombang-ambing disana karena aku gag mau kalah keren ama mereka. Karena nilai cukup kece badaii~heheh~aku dan beberapa teman berkesempatan untuk ikut talent scouting di sebuah universitas negeri. Pada kesempatan tersebut aku berusaha mengambil bidang Akuntansi. Tapi, aku dan teman se-geng-ku gag berhasil lolos talent scouting tersebut. Aku juga pernah ikut PMDK dengan majority-ku yang sekarang tapi gag lolos juga. Aku Alhamdulillah lolos di bidangku yang sekarang via SNMPTN [Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri] pada tahun 2009.

Karena aku pernah mendeklarasikan bahwa aku akan kuliah di bidang Pendidikan Biologi di hadapan teman-teman se-geng-ku, alhamdulillah permintaanku tersebut didengar oleh-Nya sehingga aku lolos SNMPTN meskipun soal yang berhasil aku jawab masing-masing hanya 30an dari semua tes yang aku kerjakan. Dari hal tersebut, aku kini berada di penghujung akhir perjuangan untuk menjadi sarjana di bidang Pendidikan Biologi. Pada awalnya memang masa transisi SMA ke kuliah itu labil banget. Mengetahui bahwa dia, orang itu, siapa dia berhasil masuk universitas A, B, C dan institut F, G, H itu agak gimanaa gituu kemudian pikiran-pikiran bahwa aku pun juga bisa dan punya probabilitas tinggi masuk ke universitas/institut itu bermunculan. Tapi, setelah aku berpikir, berkontemplasi, dan merefleksi diri, aku sungguh arogan, egois, dan tak tahu diri bisa-bisanya mengesampingkan rezeki luar biasa yang sudah Alloh SWT berikan padaku. Astaghfirullohaladhziim. Astaghfirullohaladhziim. Astaghfirullohaladhziim. One thing for your precious life: Alloh SWT knows everything what we need for our life. Beliau itu tahu yang terbaik bagi hamba-Nya dan aku sangaaaat berterima kasih atas pilihan-Nya untukku. Aku sangat bersyukur di bidangku tempat aku kuliah dari tahun 2009, aku mendapat pengalaman berharga, diasah dan ditempa dengan keras, dijungkir-balikan hingga aku bisa menjadi kuat seperti sekarang ini. Dari sinilah aku menemukan jati diriku. Di sini pun aku mendapatkan teman-teman yang luar biasa yang turut membantuku dalam mendapatkan jati diri.

Aku benar-benar suka banget dengan pendapat Arai-Sensei alias Pin, seorang tokoh di manga Kimi Ni Todoke, tentang mengapa ia memilih jalannya yang sekarang—yaitu menjadi guru olah raga dan pelatih tim baseball di sekolah.

“You were the one who created the environment that allowed you to be together with everyone.”

-Pin (Kimi Ni Todoke, chapter 79)

That really amazing~sugoii~quote. Berikut ini adalah percakapan antara Sawako dan Pin di manga Kimi Ni Todoke chapter 79 yang membuatku bernostalgia 😀

Sawako: “Sensei…”

Pin (Arai-Sensei): “Hm~”

Sawako: “… why did you become a teacher?”

“did… did you have a teacher you admired?”

Pin: “Ah… well, it’s not like I don’t. My high school baseball coach was a teacher.”

Sawako: “You must’ve looked up to him.”

Pin: “You know, it’s not like I become a teacher because I wanted to liked up to.”

“For me, I become one because it was interesting. Rather than being looked up

to, I’d rather be envied.”

Sawako: “Is teaching… fun?”

Pin: “I’ve never thought of actually teaching something.”

“It’s fun to look at you guys. You guys are foolish, and do weird things, but I

don’t get tired of it…”

“Well, that’s fine for about 3 years. 5 or 6 years would be too long! (wahaha)”

“Like in these 3 years, how you all change, what you all think, and what you

will do.”

“Whether it’s playing baseball or becoming a teacher, in the end, I just love

things that are fun.”

“What I’m best at, what I’m seeking, what I did.. all these… they are all nearly

the something. What was important to me were the things I found to be

fun.”

Aku benar-benar setuju dan terharu dengan apa yang dikatakan oleh Pin. Terharuuu~ (TT__TT)*

Kimi Ni Todoke chapter 79 (Shiina Karuho) via Mangafox with S2SCANLATIONS.COM

Kimi Ni Todoke chapter 79 (Shiina Karuho) via Mangafox with S2SCANLATIONS.COM

Kimi Ni Todoke chapter 79 (Shiina Karuho) via Mangafox with S2SCANLATIONS.COM

Kimi Ni Todoke chapter 79 (Shiina Karuho) via Mangafox with S2SCANLATIONS.COM

Kimi Ni Todoke chapter 79 (Shiina Karuho) via Mangafox with S2SCANLATIONS.COM

Kimi Ni Todoke chapter 79 (Shiina Karuho) via Mangafox with S2SCANLATIONS.COM

“You know, it’s not like I become a teacher because I wanted to liked up to. For me, I become one because it was interesting. Rather than being looked up to, I’d rather be envied.” Itu… bener banget. Salah satu alasan kenapa aku mengambil bidangku yang sekarang—Pendidikan Biologi—selain karena aku sangat suka dengan ilmu tersebut, aku mengagumi guruku saat aku SMA kelas XI. Beliau menerangkan dengan cukup jelas dan disela-sela pengajarannya beliau menyisipkan tentang kenegaraan! Beliau menyinggung fenomena yang terjadi di negeri ini kemudian beliau memotivasi siswanya untuk berkarya dan berusaha keras untuk mewujudkan negara yang lebih baik lagi. Sungguh deklarasi yang sangat menyentuh dan keren. Aku mengangguk-angguk takzim mendengarkan orasinya dan whispering: suatu saat nanti, aku akan melakukan hal yang sama di posisi ibu… dan aku akan berusaha terbaik untuk negeri ini. Yapz, bukan berarti aku ingin menjadi—mungkin pada awalnya begitu—seperti beliau tapi sebenarnya agak envy makanya pengen seperti beliau juga. Setelah kuliah dan mengobservasi cara pengajaran dosen, aku mengerti satu hal. Seperti yang dikatakan oleh Pak Yusuf Hilmy—dosen Pendidikan Sains Untuk Sekolah Dasar—“Mengajar itu style! Setiap guru punya style-nya masing-masing. Mungkin mereka terpengaruh dengan gaya mengajar seseorang yang dikagumi, tidak masalah untuk meniru, tapi tetap disesuaikan dengan diri sendiri karena mengajar itu ciri khas bagi masing-masing orang.” Seperti itulah kata-kata beliau yang bisa aku tangkap. Yapz, mengajar itu style seseorang! Yapz, mengajar itu sangaat menarik! Aku tahu dan sadar diri… di penenmpaan PPL selama 4 bulan dalam menjalankan tugas mengajar yang paliiiiiiiing pertama bagi diri ini, aku masih banyak kekurangan. Maafkan aku siswa-siswa pertamaku… maaf kalau aku tidak maksimal dalam mengajar. Tapi sungguh apa yang aku berikan pada kalian adalah apa yang ingin aku beri dan sampaikan pada kalian. Maaf bila dalam penyampaiannya kurang baik (╥﹏╥)  (╥﹏╥)  (╥﹏╥)  Namun aku sangaaaat bersyukur bisa bertemu dengan kalian di tugas mengajar profesionalku yang pertama. Terima kasih telah menunjukkan padaku banyak hal baru~

“I’ve never thought of actually teaching something. It’s fun to look at you guys. You guys are foolish, and do weird things, but I don’t get tired of it…” Itu… bener banget (lagi). Awalnya emang agak bias gimana mengajar itu. Setelah melalui masa PPL selama 4 bulan, aku tahu kalo anak SMA alias highscooler itu memang foolish juga sering do weird things. Cocok dengan pernyataan Pin. Waktu kita zaman SMA mungkin gag kerasa, tapi bagi orang yang mengamati dari luar yaaah memang tampak seperti itu. Meskipun you guys are foolish, and do weird things, tapi, ada tapinya~ but I don’t get tired of it ~ itu bener lagi sih. Kesel dan pengen marah itu sering. Tapi mereka itu suka bertingkah konyol dan itu cukup menghibur. Kayak waktu ulangan. Mereka gag nyangka kalo tindakan mereka itu gag kelihatan olehku. Lo pikir gue gag tahu? Hahahahah :p Oh GOD! Jika kita berdiri di depan sebuah ruangan, semua di depan kita itu akan tampak jelas gerak-geriknya! Mereka itu ada yang curi-curi pandang ke teman sebrangnya, ada yang berusaha diskusi dengan teman yang duduk di depan/belakangnya, ada yang kelihatan buka hape—hey! hey! hey mba! Anda pikir saya tidak tahu kalau anda buka hape?! HA! Kelihatan kaleee mba dari sinar layar yang memantul di daerah dada anda. Hahahhaha :p Makanya aku jahil dengan berkeliling kelas saat ulangan, berdiri di hadapan mereka, menatap wajah mereka satu-satu, berdiri diam di belakang, berdiri diam di sudut depan ruangan—mengamati. Ekspresi wajah mereka—serius J  Selain itu, highschooler itu pandai merayu. Yapz merayu buat ng-delay ulangan, ng-delay tenggat waktu pengumpulan tugas, ng-delay pelaporan hasil pengerjaan tugas. Fufufufufu~ dan mereka itu punyaa banyaaak alasan       (ノಠ益ಠ)ノ Pada akhirnya aku ngajakin mereka buat bernegoisasi—biar lebih keren daripada merayu! Hihihii :p  Highschooler juga suka nyanyi-nyanyi gag jelas, ng-gombalin guru PPL~hahahaha, meniru public figure yang lagi in,  adaaaa ajaaa alasan buat bikin kelas rame. Selama masih bisa ditolerir, woles aja daan yang pentiiiing: kerjakan tugas dengan baik, bisa mengerjakan ulangan TANPA nyontek 😀 yang penting tetep #InAGoodWay!

“Well, that’s fine for about 3 years. 5 or 6 years would be too long! (wahaha). Like in these 3 years, how you all change, what you all think, and what you will do.”  Yapz… mengamati perkembangan mereka, itu menarik. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri bisa mengamati kemajuan dalam diri seseorang—seperti yang dilakukan oleh Mr. Piaget yang terkenal itu… Jadi teringat masa SMA dulu… dan refleksi diri saat telah menjadi ‘aku’ yang sekarang~ Ada perubahan…  #InAGoodWay

“Whether it’s playing baseball or becoming a teacher, in the end, I just love things that are fun.” Bener banget! Aku memilih jalan ini karena aku suka, bukan karena salah masuk, bukan karena tuntutan orang tua, bukan karena ajang keren-keren. Karena aku suka! Titik!

Menjadi seorang guru… bagiku, aku bisa berbagi ilmu dengan siswa-siswa, aku bisa memotivasi mereka, aku bisa memberi penguatan pada mereka, aku bisa berbagi pengalaman supaya mereka yang lebih muda harus lebih semangat berkarya, aku bisa “mendoktrin” mereka untuk menjadi sesorang yang aktif, kuat, dan optimis. Karena aku ingin adik-adikku bisa lebih baik dan lebih kuat dari kakaknya dengan gayanya sendiri in a good way. Karena aku ingin turut berkontribusi membangun bangsa dengan mengajarkan generasi muda calon pemimpin bangsa untuk menjadi seseorang yang tangguh untuk memimpin bangsa ke arah yang lebih baik. Insya Alloh, semoga Alloh SWT meridhoi. Aamiin.

“What I’m best at, what I’m seeking, what I did.. all these… they are all nearly the something. What was important to me were the things I found to be fun.”

The Beginning: Become A Teacher/Fin.

Source of Kimi Ni Todoke:

Kimi Ni Todoke by Shiina Karuho (2006). Published by Bessatsu Margaret Shueisha

credit by Mangafox.com  translation by S2SCANLATIONS.COM

The Beginning: Is Teaching… Fun?

Dimulai dari tanggal 25 Januari 2013, pada saat itu aku mendapat tugas pertama menjadi guru piket di public school tempat aku PPL. Awalnya agak awkward juga dengan tugas baru ini, terkadang dipanggil “Bu” atau ada juga yang manggil “Teh” [kependekan dari teteh] oleh siswa-siswa di sekolah. Beneran awkward dipanggil “Ibu” tapi professional dong 😀 Tugas guru piket adalah mendata siswa-siswa yang terlambat, juga bisa dibilang sebagai receptionist  karena tamu-tamu yang datang ke sekolah nanya dan nyapa-nyapa dulu ke ruang piket sebelum ke pos satpam—itu juga karena posisi ruang guru lebih dekat dengan pintu masuk—setelah itu barulah mereka menuju ke kepentingannya.

Pada hari itu juga aku menyerahkan rancangan awal RPP (Rencana Pelaksaan Pembelajaran) ke guru pamong sebagai skenario mengajar untuk minggu depan karena tak bisa dipungkiri lagi PPL adalah waktu mengajarkan ilmu yang sudah didapatkan kemudian diberikan kepada siswa. Karena awal mula adalah sebuah fondasi, kalau fondasi itu belum kuat maka harus dirobohkan kemudian diganti dengan yang suatu yang baru yang lebih kuat. Itulah yang terjadi dengan RPP pertama saya. Fine! I feel like that I’m the college education student who never attending lesson plan class. Bukan saatnya untuk mengeluhkan saya tidak bisa atau saya biasanya begini-begitu, ikuti saja peraturan yang berlaku dimana kakimu berpijak. Wait for me! Let me show you!

Kemudian aku diberi kesempatan oleh guru pamongku untuk observasi awal—melihat penampilan beliau mengajar. Pada saat itu juga aku diperkenalkan ke siswa-siswa. Awkward banget-laaah =___=

Setelah RPP-ku disetujui, hari pertamaku mengajar tiba juga. Deg-degan itu udah pasti. Tapi kemaren aku udah mempersiapkan materi, LKS, bahan ajar juga mental. You can do it!

Aku melangkah masuk ke kelas XI A 6. Siswa-siswa menatapku agak suspicious gitu. Kemudian aku berdiri di hadapan mereka, berdiri di depan tengah kelas—menyapa mereka sekaligus memperkenalkan diri yaaah meskipun gak properly amat. Kemudian aku langsung ke pokok sasaran: belajar Indera Mata. Mengajar pertama dengan model cooperative learning dengan tipe NHT (Numbered Head Together) yang sebelumnya aku belajar dengan sangat memohon  ke sahabatku, Saenastiti, buat ngajarin. Itu karena aku gag care banget dengan yang namanya metode mengajar! WHAT?! Itu karena metode mengajar yang paling aku suka adalah metode praktikum. Bener kata bro gue, Badru, sekarang bukan saatnya bilang gue lebih suka tapi gue harus menjalani itu makanya saat inilah gue harus belajar banyak hal dalam mengajar. Pengalaman mengajar pertama ini berakhir dengan bad time management!  dan tempo bicaraku yang terlampau cepat. Ok! Bukan saatnya untuk down, wait for me—next time I’ll prove you! Kemudian saya berhasil membalas hutang saya kemarin dengan bayaran yang lebih baik. “Sekarang sudah lebih baik dari kemarin, Put. Tapi harus berusaha mengurangi tempo bicara ya,” begitu kata guru pamongku.

kelompok pemenang NHT XI A 5

kelompok pemenang NHT XI A 5

kelompok pemenang NHT XI A 7

kelompok pemenang NHT XI A 7

Kemudian hari-hari berlalu dengan konsultasi RPP, mengajar di kelas, meriksa tugas, buat soal post test dan ulangan, ngawas ulangan, meriksa ulangan, bolak-balik Bandung-Cimahi, nunggu angkot Cimahi-Ledeng yang lamaaa kalo mau pulang dari Cimahi, dan akhirnya aku dapat jalan alternatif pulang dengan naik angkot ST. Hall-Cimahi/Cimahi-Lw. Panjang terus naik angkot 23 <cikudapateuh-ciroyom> yang lewat depan gang rumah gue!

Selama rangkaian PPL ini adalah pengalaman mengajar profesionalku yang pertama. Dalam pelaksanaannya dimulai dari nol hingga pada akhirnya aku bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Speaking of which, in my post earlier I told you that I have critique from my students. But some of them wrote “peaceful message” and all of them wishing me to be a good teacher in the future. Thank you guys 😀

Selama mengajar di kelas XI A 6, XI A 7, XI A 5, dan X A 3 aku bersyukur bisa mengajar orang-orang keren yang mau belajar. Ada juga sih beberapa di antara mereka yang gag fokus waktu ngerjain tugas atau saat aku menerangkan tapi aku bersyukur mereka tetap respect ketika ditegur dan ketika aku meminta mereka untuk mengerjakan tugas. Terkadang sedih dan kesal kalo mereka enggak ngerjain tugas yang aku beri. Selama mengajar, aku membuat mereka berkelompok untuk mengerjakan LKS [sebenarnya ada materi tertentu yang aku tuh pengen nerangin secara ceramah, tapi kondisi tidak memungkinkan aku melakukan pengajaran ceramah absolut] kemudian masing-masing dari tiap kelompok atau mereka yang bersemangat berkontribusi aktif dapat mengungkapkan opini dan hasil yang telah mereka dapat. Aku sangat senang jika di antara mereka ada yang mengajukan diri, itu menunjukkan kesiapan diri mereka. Aku sangaat menghargai hal itu. Terkadang aku suka jahil juga sih, heheh, manggil siswa untuk mempresentasikan hasil yang dia dapat. Ada juga siswa yang aku tahu kalau dia itu mau berkontribusi aktif, tapi entah karena satu dan lain hal membuatnya tetap duduk di tempat—diam. Siswa yang seperti itu biasanya aku langsung panggil dia untuk segera melaporkan hasil kerjaannya. “Bu, takut salah,” katanya. “Ya udah, sih, gag masalah salah juga. Namanya juga belajar,” jawabku. Terkadang frustasi juga sih kalau aku udah membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi siapa pun yang mau melaporkan hasil kerjaan mereka tapi gag ada seorang pun dari mereka yang mau melaporkan hasil kerjaannya. Aku menawari masing-masing dari mereka—menyebut nama mereka satu-satu. Terkadang aku langsung mendekati siswa target kemudian “memaksa” mereka untuk tampil dan akhirnya ia mau melaporkan hasil kerjaannya juga. Juga ada momen yang membuatku sangaaat bahagia dan bangga ketika salah seorang siswaku—dia anak pendiam di kelasnya—ketika aku tawari untuk melaporkan hasil kerjaannya dia langsung mengangguk setuju untuk maju ke depan. Sontak teman-teman sekelasnya kaget dan menyorakinya—mendukung [cukup bias juga sorakan mereka =__=]. Dia melaporkan hasil kerjaannya kemudian aku memintanya mengulang penjelasannya tadi sesuai dengan gambar yang aku tampilkan. Awalnya aku pikir kayaknya dia gag mau, deh. Tapi aku bersyukur dia udah mau maju ke depan. Ternyata…dia mau mengulang penjelasan via gambar! Huwaaaaaaa T.T terharuu~ Akhirnya dia mau tampil juga setelah sebelumnya kalau diminta melaporkan hasil kerjaannya dia itu suka gag mau T.T … terharu~ Yapz, di antara mereka itu ada orang-orang aktif yang memerlukan motivasi dan kesempatan untuk menunjukkan keaktifannya. Mungkin dia belum pede pada awalnya, dan ketika ia diberikan kesempatan lebih dan sudah pede dengan dirinya dia akan tampil. Semacam membangunkan naga yang sedang tidur. Aku sangat bahagia kalau bisa membangunkan naga yang seperti itu. Di antara mereka juga ada yang sangat aktif dan antusias yang hanya perlu diberi penguatan lebih oleh guru sehingga keaktifan mereka dapat terkendali. Tapi beberapa di antara mereka juga ada yang “stubborn” kalau gag suka ya gag suka. Mereka itu perlu dukungan dan penguatan lebih lanjut. Tapi aku bersyukur mereka semua respect saat pengajaran berlangsung.

“Ada yang mau ditanyakan?” kelas hening. “Ada yang mau bertanya?” kelas hening. “Sudah pada mengerti semuanya?” kelas hening. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang jadi pertanyaan monolog di kelas XI. Pada umumnya begitu, tapi terkadang ada juga yang nanya dan minta pejelasan ulang, ya aku ulangi dari awal lagi—meskipun aku sebenarnya mengejar tenggat waktu [sebaiknya gag terlalu mengejar tenggat waktu]. “Nah ketika balabala—” kataku terpotong. “Bu, kalau di daun gitu juga?” tanya seorang siswa. “Bu, kalau di akar gimana?” tanya seorang siswa lain. “Bu, Bu…” Aku belum beres menerangkan, aku langsung dapat pertanyaan bertubi-tubi, itu ritme mengajar di kelas X. Kalau gag dijawab segera, mereka menunjukkan kekecewaan mereka dengan bilang “Gag diwaro.” atau “Gag apa-apa bu, gag apa-apa, udah biasa kok.” Semua hal itu adalah semangat belajar mereka dan aku sangaaat menghargai semangat belajar mereka.

model sel tumbuhan X A 3

model sel tumbuhan X A 3

model sel tumbuhan X A 3

model sel tumbuhan X A 3

model sel tumbuhan X A 3

model sel tumbuhan X A 3

model sel hewan X A 3

model sel hewan X A 3

model sel hewan X A 3

model sel hewan X A 3

model sel hewan X A 3

model sel hewan X A 3

#foto-foto tersebut adalah fosil dari usaha siswa-siswaku kelas X A 3 pada tugas model sel tumbuhan/hewan pada materi sel. How awesome 😀

gambar anatomi sel tumbuhan X A 3

gambar anatomi sel tumbuhan X A 3

gambar anatomi sel tumbuhan X A 3

gambar anatomi sel tumbuhan X A 3

#foto di atas adalah bukti usaha super keras siswa-siswa kelas X A 3 saat materi jaringan tumbuhan. tujuan diberikan tugas ini adalah aku berharap mereka bisa lebih mengenal dengan dekat sel-sel dan penampang anatomi tumbuhan. Saya sangat menghargai usaha keras kaliaan! Thank you for your big effort!

Cerita tentang ulangan, aku sangat sedih  melihat hasil ulangan mereka yang belum mencapai KKM padahal semua materi tes unit ada di LKS dan PPT yang aku kasih ke mereka [mungkin ada beberapa soal yang harus mereka analisis terlebih dulu]. Terlebih lagi ketika temen PPL gue yang se-mapel hampir 85% meluluskan siswa-siswanya bahkan siswa-siswanya lulus semua… Huaaaaaaa~  Tapi aku sangat senang ketika ada siswa yang awalnya harus menjalani remedial, di tes unit berikutnya dia lulus dengan hasil yang baik. Itu menunjukkan usaha keras mereka dan aku sangaaaaat menghargai usahanya tersebut. Juga ada siswa yang menunjukkan progress kenaikan nilai yang kece badaii. Seperti sloganku sebelumnya bukan nilai yang terpenting tapi seberapa besar usaha kalian untuk mendapatkan nilai tersebut itulah yang terpenting cukup memotivasi siswa tersebut dengan optimis. “Bu, nilai saya naik ya, Bu,” katanya. “Iya, bagus itu! Tuh kan, kamu itu bisa! Di ulangan berikutnya tunjukkan kalau kamu bisa meraih nilai yang lebih baik lagi,” kataku. “Siap, Bu. Yang penting setiap ulangan nilai saya naik, kan, Bu?” tanyanya. “Sip! Kenaikan nilai yang konsisten itu keren. Semangat kamu pasti bisa!” Penguatan lebih lanjut, motivasi, dan dukungan bagi mereka yang belum lulus itu penting supaya mereka gag down dan memicu mereka untuk berusaha lebih baik lagi. Selain itu, penguatan bagi mereka yang sudah lulus itu penting supaya mereka bisa mempertahankan dan meningkatkan nilai yang diperoleh. Selama menyelenggarakan tes unit—ulangan—aku baru sekali mengeluarkan nilai 100 kepada seorang siswa di kelas XI A 5. Dia dari awal tes unit konsisten lulus terus dengan nilai yang outstanding. “Saya harap, jika ada kesempatan lagi saya ingin beberapa orang yang dapat 100.”

The Medals: Gold, Silver, Bronze

The Medals: Gold, Silver, Bronze

sebuah gambar yang ditemukan di lembar jawaban tes unit Endokrin

sebuah gambar yang ditemukan di lembar jawaban tes unit Endokrin

Masih cerita tentang ulangan, aku sangat kesal dan jengkel kalau ada siswa yang bilang “Bu, kapan remed?” HEEYYY! Ulangan pun belum dimulai dan kalian pun belum baca soalnya tapi udah bertanya tentang kapan remed? Nyebelin bangetlah! “Desperate amat sih kalian?! Baca soalnya aja belum!” jawabku kesal. Aku bener-bener gag suka dengar kata “remed” sebelum pengumuman nilai dikeluarkan. Itu menunjukkan sifat pesimistis dan tidak menghargai diri sendiri. Karena dengan bilang “remed” diawal menyatakan bahwa ‘usaha apa pun yang udah dilakukan pasti sia-sia’ seperti itu jika ada yang mendeklarasikan pernyataan “remed” sebelum berperang. Di tes unit berikutnya aku mengeluarkan peraturan, “Ulangan baru akan dimulai ketika meja kalian bersih. Hanya alat tulis dan kertas di atas meja,” kemudian mereka membersikan meja mereka. “Peraturan berikutnya, kalian harus berpikir positif dan optimis bisa mengerjakan ulangan. Jangan pernah bilang remed sebelum dan selama ujian hingga pengumuman nilai. Jika kalian bilang remed berarti menunjukkan bahwa kalian tidak menghargai diri kalian sendiri. Jelas?” tanyaku menatap mereka. “Waktu mengerjakan ulangan selama 35 menit, ada pergerakan yang mencurigakan—waktu pengerjaan dikurangi satu menit.”  Karena aku seseorang jahil, aku berkeliling kelas mengecek keadaan.

Dari semua pengalaman mengajar selama empat bulan PPL, mengajar itu sangat membahagiakan. Aku bahagia diberi kesempatan untuk bisa mengajar meskipun cara aku mengajar masih gag sempurna terlebih tempo bicaraku yang cepat. [maafkan aku siswa-siswaku… aku udah berusaha supaya gag kecepetan ngomongnya T_T]. Aku senang bisa mengajar, selain berbagi ilmu juga bisa berbagi motivasi. Aku pernah suatu hari terserang “pendaran hologram” di pagi buta sebelum berangkat, that’s so horrible! Pusing udah pasti banget bahkan berdiri pun cukup gag stabil. Selama perjalanan Ledeng-cimahi aku tidur, gag peduli orang nglihat kayak gimana soalnya aku udah gag kuat. Harusnya kalo aku udah kena “pendaran hologram” minimal aku harus tidur selama 1-1,5 jam. Setelah nyampe Cimahi dan berjalan ke sekolah masih cukup pusing, tapi setelah melangkah masuk ke dalam kelas—saya bisa berdiri dengan stabil dan kembali menjadi guru dengan ritme yang biasa. Intinya, euforia setelah berdiri di depan siswa-siswa semua pusing, gag pede, gag jelas, dan lainnya langsung hilang, digantikan dengan atmosfer semangat untuk berbagi ilmu.

Aku sangat senang ketika siswa-siswaku manggut-manggut takzim saat aku menjelaskan suatu fenomena di hadapan mereka, aku sangat senang ketika siswa-siswaku bersemangat untuk menjawab pertanyaan, aku sangat senang ketika siswa-siswaku bersemangat untuk mendapat giliran bertanya, aku sangat senang ketika progress kenaikan nilai mereka meningkat, aku sangat senang bisa melihat mereka tersenyum bangga ketika mereka berhasil memecahkan suatu masalah. Aku berharap semoga ilmu yang aku bagikan pada kalian—siswa-siswaku—juga pelajaran yang aku dapat dari kalian bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kalian juga bagiku. Semoga Alloh SWT meridhoi. Aamiin.

Pemimpi

Bukan berarti seorang pemimpi hanya bisa bermimpi atau melamun di tengah hari yang panas. Bukan berarti seorang pemimpi hanya diam termenung merenungi nasib. Bukan berarti seorang pemimpi tak tahu apa yang harus dilakukannya. Seorang pemimpi, dia memiliki mimpi. Bukan sekadar mimpi, tapi mimpi yang besar yang bertumpuk hingga menjangkau langit. Karena seorang pemimpi yang memiliki mimpi yang besar, ia menuliskan mimpi-mimpinya dan tahu maksud dari mimpi-mimpinya itu. Karena ia seorang pemimpi yang memiliki mimpi yang besar, ia bergerak sedikit demi sedikit secara bertahap untuk mendapatkan mimpi itu. Karena seorang pemimpi memiliki mimpi yang besar, ia tahu apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan mimpi tersebut. Tak ada kata capek, tak ada kata tak bisa, tak ada kata mustahil. Seorang pemimpi tahu betul tentang hal itu karena ia memiliki mimpi besar yang harus didapatkannya. Hal yang dilakukan pemimpi adalah terus berusaha, terus bersemangat, terus berikhtiar. Bukan berarti mimpi lama yang digantikan oleh mimpi baru berarti sia-sia, tapi mimpi baru itu adalah jalan pembuka bagi tercapai mimpi lama dengan versi yang lebih modern. Perlahan tapi pasti, seorang pemimpi bergerak gesit tanpa suara untuk mendapatkan mimpi-mimpinya. Atas izin Sang Pencipta, semua mimpi-minya akan terkabul dengan keadaan yang baik—sangat baik.

Simfoni Bintang

Simfoni Bintang

Simfoni Bintang

Angkasa luas yang gelap selalu bercahaya
Tidak pernah kelam
Tidak pernah sendiri
Bersama dengan kelap-kelip bintang
Menerangi dunia
Memberi kehidupan

Bintang-bintang di langit
Andaikan aku menjadi bagianmu
Kuingin cahayaku
Mewarnai langit
Menerangi dunia
Untuk suatu kehidupan

Untuk mendapatkan mimpi. Aku berusaha semaksimal kemampuanku.
Good luck & success!
Aamiin.

Puti’s Lab

Puti's Lab

Laboratorium punya gue!
😀
Laboratorium gue punya suhu kamar dengan kelembaban yang sedang-kering~cocok untuk pertumbuhan mikroba. Lho?!
insya Alloh, inkubasi minyak secara fermentasi, inkubasi tempe, inkubasi yoghurt, inkubasi nata de coco aman-lancar. Selain itu, penanganan yang baik sangat dibutuhkan.
\(^0^)/\(^0^)/