Wake Up Early [Day 2]

a-suddenly-test-1- Baca lebih lanjut

Iklan

Wake Up Early

wake-up-early-1-

wake-up-early-2-edit

wake-up-early-3-edit

wake-up-early-4-edit

 

Wake Up Early.

Sebuah kisah yang gue tulis ketika ikut salah satu acara BEM jurusan saat kuliah dulu. Acaranya tentang latihan rapat, biasalah… belajar jadi organisator hehehe.. Eh, tapi belajar rapat penting lho, bagian dari soft skill, jadi buat pembaca mahasiswa yang kebetulan mampir di blog ini, gue sarankan untuk ikut acara BEM atau himpunan yang ada di kampus. Gak akan rugi kok. Itu sumbernya gue 🙂

Kembali ke Wake Up Early, ini komik awalnya hanya doodle ketika ada waktu senggang untuk menggambar. Kemudian gue cukup terkesan, “ih, bagus juga gambar gue hihihi,” /pede/ dan… gue melanjutkan menggambar 🙂

Ceritanya dari keseharian kehidupan kuliah gue di semester awal, biasalah mahasiswa baru yang baru aja lulus dari SMA, yang biasa jarak sekolah bisa ditempuh dengan berjalan kaki, kini ke kampus harus menempuh 1 jam perjalanan plus mengantri di jalan–macet. In other words, gue telat.

Dan… kisah ini adalah kejadian nyata setiap kamis pagi (╥﹏╥) (╥﹏╥) (╥﹏╥) (╥﹏╥) (╥﹏╥) (╥﹏╥) kuliah Matematika Dasar pukul 7. Seorang gue tiba di kelas pukul 7.30 What the **** are you doing?

Mohon maaf, Pak. Gak ada maksud tertentu saya datang telat terus di kuliah yang Bapak ampu. Hanya saja jadwal di rumah cukup padat.

Alibi.

.

.

.

.

.

.

Well, good luck on your study!

.

.

Hidup Mahasiswa!

Kisah Pahlawan Badai

Di dunia ini, terdapat kisah-kisah kehidupan yang dapat kita pelajari agar kita tidak jatuh ke dalam lubang yang sama melainkan lompat ke tempat yang lebih aman—jika kasusnya kita sedang merenungi kisah yang memilukan. Lain halnya jika kita merenungi kisah yang membahagiakan, kita akan melakukan hal yang sama bahkan melakukan hal yang lebih luar biasa untuk melampaui kisah membahagiakan yang kita renungi. Di tengah hiruk-pikuk waktu yang terus bergulir yang selalu melangkah ke depan dengan tujuan “Masa Depan”, aku duduk disini, merenungi kisah yang aneh, eksentrik, tapi nyata.

“Kita kuliah macam sinetron,” komentar seorang temanku membuka pembicaraan mengenai perjalanan kuliah kami yang baru berjalan satu semester. “Di kelas hanya satu atau dua jam, perjalanan pergi dan pulang memakan waktu tiga jam, total berada di luar rumah sekitar lima jam,” lanjutnya serius sambil mengerutkan alis. “Lebih tepatnya, perjalanan di jalan lebih lama dibandingkan kuliah itu sendiri.”

Aku menanggapinya dengan manggut-manggut takzim, menyetujui komentarnya. Komentar temanku itu benar adanya. Terkadang aku sangat emosi dalam menghadapi kenyataan itu, tapi memang begitulah kenyataan yang aku hadapi.

“Ada satu kelebihan dari perjalanan yang kita alami, kawanku,” tambah temanku dengan wajah serius penuh arti, “kuliah dari jalan,” lanjutnya. “Lebih bermakna duduk di tempat ini dibandingkan duduk di ruangan dengan raga tanpa jiwa.”

***

Aku bukan seseorang yang cakap pada suatu bidang tertentu juga bukan seseorang yang menjadi pusat perhatian. Sepertinya hal-hal seperti itu tidak—belum ada dalam diri ini. Keinginanku bukan tentang mendapatkan nilai terbaik saja, tapi suatu hal yang tidak bisa dipungkiri oleh hati ini yaitu ingin menjadi seseorang yang bermakna, yang disenangi dan dirindukan oleh orang lain. Bukan seorang invisible seperti peranku saat ini. “Aku ingin berteman dengan mereka,” kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut ini setelah selesai kuliah Filsafat Sains di tengah keramaian celoteh anak-anak lain. Aku hanya bisa memandang mereka dari jauh, dalam diam.

Sejatinya aku bukan seorang yang dengan mudah mengikuti perintah orang lain. Demi apa pun itu aku hanya akan menjadi aku, aku yang aku. Aku cukup khawatir dengan keadaanku, tapi sekarang bukan waktunya untuk merutuki keadaan yang plain ini. Hanya ada satu cara yang mungkin kulakukan dari satu cara yang sangat wajar, pantas, dan elegan—membuat basis kekuatan baru. Mengajak orang-orang yang berpikiran yang sama denganku untuk bergabung dan bekerja sama denganku. Itu ide gila bagiku yang hanya seorang pemalu—lebih tepatnya. Sambil menerobos tembok tinggi yang menghalangi diri ini, aku ingin bebas. “By the way, apa kalian berdua mau bergabung denganku? Kita buat basis kekuatan baru.”

Kedua temanku hanya menatapku aneh sambil mengerutkan alis, “Haha, oke. Kami akan bergabung.” Jawaban temanku itu mengembangkan senyum perdana di wajah ini. Just speak up. It’s time for me—you—to speak up. Bagaimana orang lain bisa mengerti dengan keinginan atau kebutuhan kita jika kita tidak berbicara apa yang kita rasakan? Benar. Sekarang bukan saatnya untuk diam dan hanya melihat, tapi bicaralah dan bertindaklah sewajarnya untuk menuruti keinginan tanpa merugikan orang lain. Tunjukkan pada dunia bahwa diri ini ada.

“Siapa berikutnya yang akan menempati posisi leader kelompok delapan?” tanya Pak Dosen.

“Padma! Padma, Pak!” seru salah seorang temanku yang duduk di barisan belakang.

“Ya, Pak. Padma. Padma,” rekomendasi anak-anak lain turut mendukung. Tindakan sekecil apa pun yang kita lakukan, orang lain akan menilainya. Pada akhirnya, diri kitalah yang menentukan awalannya.

***

Ketika mengingat kejadian itu, rasanya aku muak dan tak ingin berlama-lama mengingatnya. Ketika pressure semakin tinggi yang meningkat ke level berikutnya, kuliah yang digambarkan oleh sinetron itu hanya bualan belaka. Ini baru awal perjuangan, kawan!, celoteh seorang temanku dengan penuh semangat. Di sisi lain, terdapat pihak-pihak yang mulai terombang-ambing terkena terpaan angin.

“Katanya, semester ini tugas dikumpulkan setiap minggu.

“Iya. Katanya bukan hanya dari satu mata kuliah, tapi tiga mata kuliah sekaligus!”

“Katanya kesolidan kelompok menjadi taruhannya.”

Katanya. Katanya. Katanya. Bodohnya diri ini termakan oleh ‘katanya’ yang tidak jelas siapa atau apa sumber utamanya. Karena setiap hari, setiap berada di kelas, setiap ada kesempatan, kalimat-kalimat provokasi itu terus diulang sehingga menciptakan suatu pengondisian yang salah kaprah. Karena termakan oleh euforia semacam itu akibat kebodohan diri sendiri, kebiasaan baru yang mulai kulakukan adalah mengeluh. Merutuki kurangnya kapabilitas orang lain dan merutuki kapabilitas diri sendiri yang sama jeleknya.

“Kenapa orang-orang seperti itu?” tanyaku. “Aku bukan orang seperti itu dan tak sudi aku seperti itu!”

Pertanyaan-pertanyaan monolog kutanyakan pada ibuku yang duduk menghadap televisi, menonton drama picisan. “Lalu apa yang kamu mau?” tanya beliau menanggapi pertanyaan monolog-ku. Yang aku inginkan? “Tidak semua orang memiliki pemikiran dan kemampuan yang sama denganmu. Hargailah usaha mereka. Anggap itu adalah hasil maksimal yang bisa mereka berikan.”

Ingatan terakhir yang bisa kuingat adalah keluhan-keluhanku pada ibuku yang sangat tak ada faedahnya hingga wajar saja ibuku tak menanggapinya dengan serius. Pada bagian tertentu aku hanya merasakan capek yang tidak bermakna.

***

Tak ada seorang pun yang mau mengulangi kisah yang memilukan, termasuk diri ini. Kisah yang pilu cukuplah terjadi sekali sebagai bahan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kontemplasi yang kulakukan memaparkan bahwa kehidupan yang kujalani pada waktu yang lalu sangat berantakan, banyak mengeluh, dan kurang bersyukur. Tuhan, maafkan hamba yang penuh dengan kekurangan ini.

Dalam memori yang berhasil kuingat, euforia yang dikhawatirkan satu tahun sebelumnya kembali menerjang dengan terpaan angin yang jauh lebih kencang. Lebih dari itu, hujan badai pun kerap datang secara berkala. Jika diibaratkan sebagai mangrove, memiliki akar yang kuat adalah kunci keberhasilan melewati badai. Tak ada waktu untuk mengeluh, tak ada tempat untuk bermalas-malasan, tak ada kesempatan untuk menyalahkan orang lain. Akan kuhadapi badai ini dengan kemampuan diri yang semakin kuat.

Pernyataan dari temanku cukup menohok, namun berupa cambuk yang dapat membuat diri ini harus semakin kuat. “Setiap harinya kita harus meningkatkan kapasitas diri ini,” begitu kata Elang Hadikusuma, seorang yang memiliki semangat juang dan penuh dengan pikiran positif. “Bagaikan sebuah gelas kosong, seberapa banyak kita akan mengisi gelas tersebut?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk takzim menyimak pembicaraannya.

Meningkatkan kapasitas diri. Pada awalnya aku tidak begitu ngeh dengan frasa ‘kapasitas’, tapi setelah badai berlalu, aku mengerti bagaimana kapasitas diri itu memperlakukan diri ini semakin baik. Sisi egoistik dari dalam dirilah yang pada umumnya memblokir pikiran kita menjadi pikiran yang tertutup.

“Aku belum mengerjakan tugas ABC. Aku menyerah kalau harus mengerjakannya,” celoteh temanku dengan putus asa.

“Apa kamu sudah mencoba mengerjakannya?” tanya Matahari, seorang teman yang selalu bersemangat.

“Belum,” jawab temanku nyengir.

“Lalu apa yang membuatmu tidak bisa mengerjakannya?” tanya Matahari, alisnya berkerut. “Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu tidak bisa mengerjakannya padahal mencoba pun belum?” Kami semua yang mendengar pernyataan Matahari hanya bisa bungkam.

Benar. Secara tidak langsung, pernyataan Matahari dan Elang saling mendukung yang membuatku lebih memahami tentang kapasitas diri. Kapasitas diri itu adalah kemampuan yang ada di dalam diri, yang menunggu sang pemilik untuk membangkitkannya.

“Tugas itu sama halnya dengan menguji kapasitas diri,” kata Matahari. “Tugas banyak itu artinya kapasitas diri meningkat,” tambahnya. “Kapasitas diri itu seperti gadget. Semakin banyak aplikasi yang dimiliki oleh gadget itu, semakin “luar biasa” gadget itu. Kalian pilih apa di tipe smartphone? BBerry, android, tab atau note? Pilih saja sesuai keinginan kalian.”

Apa yang awalnya tidak bisa kita lakukan karena tidak biasa melakukannya kemudian menyerah, itu biasa. Tapi ketika kita berusaha mencobanya hingga jatuh terseok-seok kemudian berhasil melampaui ketidakmampuan itu, itu luar biasa. Di dunia ini tidak ada istilah “kebetulan”, yang ada hanyalah seberapa besar usaha yang bisa kita lakukan.

“Pad, giliranmu,” panggil temanku.

Ok,” jawabku. “I’m ready.

Itulah kisahku.

 

 

 

<Note: Cerpen tahun 2013>

 

 

 

 

 

 

 

Hello.

2016.

I’m ready.