Love Letter (by Seventeen)

loveletter

(*/∇\*)(*/∇\*)(*/∇\*) (*/∇\*)(*/∇\*)(*/∇\*)

Kyaaaaaaaaaaaaaa~ Aku dapat Love Letter ♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

Oh my, aku dapat hadiah kopi dari Mingyu ♡♡♡ Huwaaaaaaaaaa  (*/∇\*)  Makasih banyak yaa Mingyu ♡

mingyu-ganteng3

Bahkan Wonwoo memberiku kalung (*/∇\*)(*/∇\*)(*/∇\*)

wonwoo8

Aihhh Wonwoo, padahal gak perlu repot-repot ihh, tapi makasih banyak yaa kalungnya ♡

Makasih yaa kalian, senang deh bisa melihat kalian hari ini. Makasih banyak juga atas kado dari kalian hihihi ♡♡♡

Kamsahamnida

.

.

.

.

.

.

.

.

Well. . . aku pun pengin dapat hadiah mikroskop kayak Barry Allen #pengin #mikroskop

barry-mikro2

Good luck!

 

 

 

 

 

Sumber: Official Seventeen Facebook & Instagram, The Flash

1/15

Alhamdulillah hari ini aku bisa menyelesaikan usaha 1/15. Seharusnya bisa benar-benar 1/15. Tapi, aku sudah berusaha 1/15 dan akan terus melancarkan 1/15 hingga sungguh-sungguh 1/15. Berikutnya adalah 1/10. Semoga sukses! Semoga Allah Swt. meridhoi usahaku ini. Aamiin.

[Perspektif] I’ve A Reasonable Answer

Sinkronisasi antara gerak detik jam dan jantung yang berdegup nyaris tak bisa—bahkan tak bisa sama sekali. Impuls saraf bergerak dari hypothalamus menuju medula adrenal sehingga epinephrine disekresikan yang menyebabkan peningkatan laju detak jantung.  Sudah duapuluh tujuh setengah menit sejak inisiasi pengeluaran epinephrine dan di penghujung dua setengeh menit ini peningkatan laju detak jantung sudah mencapai titik maksimal. It’s going to explode.

Layar komputer di bilik tiga belas warung internet samping Jalan Kemerdekaan hanya menampilkan laman yang sama sejak awal computer log in. Laman tersebut sangat sederhana—tidak ada hiasan-hiasan mencolok atau iklan-iklan aneh—hanya memiliki dua kalimat yang  tampak keramat. Kalimat pertama menyapa ramah, “Selamat datang”. Kalimat kedua—ini kalimat yang paling keramat—dengan nada perintah, “Masukkan nomor seleksi yang tertera pada kartu peserta ujian” kemudian ada kolom kosong di bawah kalimat tersebut.

Baca lebih lanjut

Keping Ingatan Sang Putri

Sebuah senyuman menghiasi wajah Sang Putri saat membaca perkamen-perkamen yang ditulisnya. Perkamen-perkamen tersebut bukan hanya kumpulan tulisannya akhir-akhir ini, tapi tulisannya sejak beberapa tahun silam. Sudah lama, tapi tulisan-tulisannya di masa silam memiliki jiwa yang sama seperti tulisannya di masa kini. Dari tulisan-tulisannya, ada banyak hal yang ingin Sang Putri wujudkan. Dalam tulisannya Sang Putri memaparkan bahwa ia akan berusaha semaksimal kemampuannya untuk mewujudkan impiannya. Pertanyaan ‘apa aku bisa?’ atau ‘apa aku mampu menghadapinya?’ tak luput dari tulisan Sang Putri. Namun, Sang Putri kembali menjawab dalam tulisannya, ‘aku tak akan tahu jika tak mencobanya’ atau ‘aku hanya perlu memulai untuk mampu menghadapinya’. Sungguh berani dan percaya diri.

Sang Putri menyeringai mengingat kenangan keberaniannya. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk duduk memeluk lutut di pojok labirin. Ia harus bergerak. Ia harus memulai untuk mampu menghadapi tantangan Sang Labirin. Ia harus mencoba segala usaha untuk menyelesaikan tantangan Sang Labirin. Di tempat yang berbeda, Sang Waktu berjalan cepat menuju tujuannya. Sang Putri harus tiba tepat waktu, seperti halnya Sang Waktu. Sang Putri mengangkat kepalanya, menatap dinding-dinding labirin yang tampak tak berujung. Ia bangkit berdiri, tak peduli dengan gaunnya yang sudah lusuh. Sang Putri mengepalkan kedua telapak tangannya, mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi tantangan Sang Labirin.

“Teruslah melangkah di jalan yang kau pilih,

… diriku.”

 

 

.

.

.

.

.

.

.

.

Good luck!