Ketika aku punya kesempatan untuk berbicara pada diriku di masa lalu

Ketika aku punya kesempatan untuk berbicara pada diriku di masa lalu. Ah, terlalu banyak menonton film fantasy-science fiction. Awal tahun 2018 aja udah menonton K-drama “Longing Heart”. Drama tentang usaha memperbaiki keadaan di masa lalu biar masa kini lebih baik—soal percintaannya, omong-omong. Di pertengahan tahun aku menonton “ReLIFE” versi movie karena pemeran utamanya Taishi Nakagawa (line 97) karena doi tamvan kkk. Tidak sesederhana itu karena plotnya cukup menggeletik diriku. Sebenarnya film ini adaptasi dari webtoon berjudul sama yang terbit di Comico. “ReLIFE” ini menawarkan kesempatan kedua pada tokoh utama pria dalam menjalani kehidupan; apakah ia memilih kehidupan lama atau kehidupan barunya setelah kehidupannya  di-restart dari kelas 3 SMA. Hm, menarik. Di awal bulan Oktober ini aku menonton film “Be With You” dari versi originalnya (versi Jepang), yaitu “Ima, Ani Yukimasu” (2004). Awalnya nonton film ini karena ada cuplikan film “Be With You” versi Korea di YouTube yang menampilkan wajah familier yang menurutku punya visual di “Produce 101 season 2”, Lee Youjin. Cuplikan filmnya lucu karena menggambarkan kekakuan romantisme di masa remaja, apa lagi jika bukan masa SMA. Kepo tingkat tinggi hingga aku menontonnya. Filmnya tentang kesempatan kedua bertemu dengan orang terkasih. Hm.

Ketika aku punya kesempatan untuk berbicara pada diriku di masa lalu. Ah—tenanglah. Jangan dulu mendebat. Yha aku tahu bahwa tidak ada mesin waktu yang dapat memutar waktu ke masa lalu juga tidak ada mesin waktu yang dapat mengondisikan dirimu kembali ke masa remaja (sedangkan di waktu yang sama waktu yang sebenarnya sedang berjalan) atau  tidak ada mesin waktu yang membawamu ke masa depan. Aku tahu bahwa Waktu terus melangkah ke depan, tak akan pernah menoleh ke belakang. Tidak akan pernah! Lalu, untuk apa membicarakan masa lalu yang tak pernah kembali itu? Tidak bisakah aku berkontemplasi sejenak tentang masa lalu sebagai bahan evaluasi untuk masa mendatang? Okey. Lakukan sesukamu, asalkan kau mendapatkan pemikiran jernih yang dapat menginspirasi dirimu, bukan meratapi penyesalan yang kau miliki.

Baca lebih lanjut

Iklan

Sebuah catatan: “Belajar itu gak perlu lama, tapi sedikit-sedikit belajar”

Tidak perlulah menghitung berapa tahun yang telah kulalui untuk belajar. Pada dasarnya proses belajar menyertai semua orang selama ia hidup. Belajar itu menurutku suatu kegiatan yang menarik karena kamu bakal jadi tahu sesuatu—baik itu hal sederhana yang diabaikan orang atau hal detail yang berdampak besar bagi umat manusia—dari yang asalnya kamu tidak tahu eksistensi sesuatu tersebut ada. Ingatan tentang belajar membawaku bernostalgia saat masih sekolah dulu. Waktu TK aku sangat bersemangat mengerjakan PR matematika, aku sangat senang dan bangga bisa menyelesaikan sepuluh soal penjumlahan dan pengurangan. Asli itu baru sampai rumah langsung mengerjakan PR. Waktu SD, pelajaran matematika baru benar-benar menunjukkan taringnya. Aku ingat nilaiku dulu antara angka bebek atau angka kursi, aku tak pandai berbohong sehingga aku tak pandai beralasan. Tentu saja saat sesi interogasi oleh ibundaku perihal nilai yang tertera di buku pelajaranku beliau langsung murka. Tapi, selama yang aku ingat, aku tidak pernah benar-benar benci pada matematika. Waktu SMP kelas 1, bisa dibilang masa awal aku menyukai biologi tanpa kusadari, ketertarikanku pada biologi diawali dari membaca dengan sakasama mengenai klasifikasi makhluk hidup. Saat itulah momen aku mengenal porifera, coelenterata, vermes, arthropoda, moluska, dan echinodermata yang mengawali keingintahuanku tentang kehidupan di Bumi. “Oh, jadi…” atau “Pantas saja…” atau “Jadi mereka saling terkait?” adalah suatu celoteh kebahagiaan karena diri ini merasa selangkah lebih tahu dari sebelumnya 😎. Dan aku suka perasaan meletup-meletup penuh kebanggaan atas pengetahuan baru yang ku ketahui itu.

Baca lebih lanjut

Thanks

Ruang Que yang paling tahu momen berharga pada tanggal 12 Maret bagi seorang Puti. You’re doing great.

“These typical words, I’m only saying them now. But I hope these typical words will reach you. Thank you, thank you, that’s all I can say.” [Thanks – SEVENTEEN]

Semangat belajar karena waktu belajar itu tak terbatas untuk meningkatkan kapasitas diri. Semoga ilmu yang didapat selama ini menjadi ilmu yang bermanfaat. Aamiin…

 

Semoga sukses ⭐

ROCKET

Yeah Ima build a rocket. Ima build a rocket to pierce through the clouds

Ooh build a rocket with me, Ooh blast it up to the sky

Ooh look, we fly so high, Ooh yeah so high ah

 

[  ROCKET by Joshua & Vernon of SEVENTEEN  ]

 

Good luck 😊 🚀

 

You’re not alone pt.2

Baca lebih lanjut