Sebuah catatan: “Belajar itu gak perlu lama, tapi sedikit-sedikit belajar”

Tidak perlulah menghitung berapa tahun yang telah kulalui untuk belajar. Pada dasarnya proses belajar menyertai semua orang selama ia hidup. Belajar itu menurutku suatu kegiatan yang menarik karena kamu bakal jadi tahu sesuatu—baik itu hal sederhana yang diabaikan orang atau hal detail yang berdampak besar bagi umat manusia—dari yang asalnya kamu tidak tahu eksistensi sesuatu tersebut ada. Ingatan tentang belajar membawaku bernostalgia saat masih sekolah dulu. Waktu TK aku sangat bersemangat mengerjakan PR matematika, aku sangat senang dan bangga bisa menyelesaikan sepuluh soal penjumlahan dan pengurangan. Asli itu baru sampai rumah langsung mengerjakan PR. Waktu SD, pelajaran matematika baru benar-benar menunjukkan taringnya. Aku ingat nilaiku dulu antara angka bebek atau angka kursi, aku tak pandai berbohong sehingga aku tak pandai beralasan. Tentu saja saat sesi interogasi oleh ibundaku perihal nilai yang tertera di buku pelajaranku beliau langsung murka. Tapi, selama yang aku ingat, aku tidak pernah benar-benar benci pada matematika. Waktu SMP kelas 1, bisa dibilang masa awal aku menyukai biologi tanpa kusadari, ketertarikanku pada biologi diawali dari membaca dengan sakasama mengenai klasifikasi makhluk hidup. Saat itulah momen aku mengenal porifera, coelenterata, vermes, arthropoda, moluska, dan echinodermata yang mengawali keingintahuanku tentang kehidupan di Bumi. “Oh, jadi…” atau “Pantas saja…” atau “Jadi mereka saling terkait?” adalah suatu celoteh kebahagiaan karena diri ini merasa selangkah lebih tahu dari sebelumnya 😎. Dan aku suka perasaan meletup-meletup penuh kebanggaan atas pengetahuan baru yang ku ketahui itu.

Itulah kisah tentang awal mula kesukaanku pada belajar. Seiring berjalannya waktu, belajar itu adalah bagian dari lifestyle yang sudah tidak bisa dibedakan lagi dengan makan atau minum, hehe. Aku mengatakan itu bukan tidak berdasar, karena memang benar adanya kalau belajar itu selalu dilakukan manusia setiap harinya. Contoh yang mungkin saja belum terpikir oleh orang-orang, aku belajar bahasa Inggris dari nonton anime dengan alih bahasa Inggris. Baca mangaonline juga yang berbahasa Inggris. Hal itu bermula ketika aku mengambil kelas bahasa Inggris dan harus presentasi menggunakan bahasa Inggris. Yha aku tahu diri dengan kemampuanku, jadilah aku berlatih bercakap-cakap dengan menyuarakan teks Inggris yang tertera di layar laptop. Setelah itu, aku lanjutkan kegiatan berlatihku dengan membaca manga online karena sudah sangat kepo dengan kelanjutan anime yang kutonton saat latihan tersebut. Anime pertama yang kupunya di laptop adalah Kimi Ni Todoke, kemudian ku lanjut baca di manga online yang mengawali petualanganku membaca manga shoujo di manga online. Awalnya memang buka kamus untuk mencari arti kata yang gak kutahu, tapi lama-lama capek juga dan gak seru kalau baca harus diselingi dengan buka kamus. Jadilah aku membiasakan diri baca aja terus kalimatnya hingga pada akhirnya aku benar-benar mengerti dengan ceritanya. Such a magic, isn’t it? Haha.  Saat aku buat tulisan tentang rekomendasi manga shoujo, warganet blog-ku pada bertanya tautan laman manga tersebut karena di laman berbahasa Indonesia belum ada. Yha kawan-kawanku semua, yang update cepat adalah mangaonline yang berbahasa Inggris. Semangat belajar, gengs! In the end you’ll happy you get the fastest update! 😏

Setelah melalui masa belajar di bangku kuliah, aku jadi lebih paham dengan gaya belajarku sendiri. Gaya belajarku itu yha sesuai keinginanku, tak bisa kujelaskan dengan kata-kata karena belajar itu memang sifatnya personal. Tapi, aku lebih mudah menangkap suatu fenomena secara visual. Menurut Kenneth Goodman, ada delapan poin tentang belajar. Poin ini tertulis pada buku catatanku, sepertinya saat aku mengikuti sebuah seminar pendidikan. Belajar itu nyata dan alami dilakukan oleh setiap individu. Seperti yang sudah kukatakan, proses belajar menyertai semua individu selama ia hidup. Belajar itu sebuah ketulusan yang utuh karena menurutku seorang pembelajar bakal meresapi apa yang dipelajarinya dan mengambil hikmah dari belajarnya. Belajar itu membuatmu berpikir lebih dalam sehingga membantumu menjadi bijaksana dalam bertindak. Belajar itu—lebih tepatnya hasil belajar—milik si pembelajar itu sendiri karena belajar itu sifatnya personal. Belajar itu bagian dari kejadian nyata yang dialami si pembelajar. Belajar itu memiliki kegunaan sosial. Aku belajar mengenai sebuah ikatan persahabatan dan belajar memelihara mimpi dari One Piece. Terima kasih untuk Oda-sensei atas masterpiece-nya yang luar biasa keren. Seseorang yang belajar itu memiliki tujuan tertentu kenapa ia belajar. Contohnya saat aku nonton anime dan baca manga online untuk belajar bahasa Inggris.  Pembelajar memilih untuk menggunakan belajarnya itu dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.

Memang benar seseorang belajar karena memiliki tujuan tertentu. Aku belajar gambar secara otodidak, sih, belajarnya dari mengamati gambar komik atau ilutrasi. Alhamdulillah sekarang gambaranku udah ada perkembangan meski gak mahir-mahir amat, tapi aku bisa gambar. Selain belajar gambar, aku juga belajar memahami karakter anak-anak saat jadi wali kelas siswa akselerasi kelas empat SD. Anak-anak itu penuh ide yang tak terduga. Pin, karakter wali kelas sekaligus guru olah raga di manga Kimi Ni Todoke berkata, “It’s fun to look at you guys. You guys are foolish, and do weird things, but I don’t get tired of it…”. Itu memang benar adanya saat berhadapan dengan para siswa. Aku jadi belajar bersabar dan mencoba memahami cara berpikir mereka. Saat aku diberi kesempatan untuk berpetualang, aku memilih berpetualang ke Jatinangor untuk belajar menjadi petani singkong. Aku belajar banyak bagaimana cara menanam singkong dan merawatnya. Aku juga jadi tahu bentuk morfologi bunga dan buah singkong yang sebelumnya tidak terpikir karena singkong itu biasanya ditumbuhkan secara stek batang. Saat di laboratorium, aku jadi belajar menggunakan mesin yang berfungsi untuk analisis kimia, wahhh pokoknya pengalaman belajar yang menarik saat belajar mengenai ekofisiologi tumbuhan. Jika ada kesempatan lain, aku ingin belajar tentang ekologi di lapangan, baik itu membahas tentang keanekargaman hewan maupun tumbuhan. Bisa kukatakan bahwa aku sedikit-sedikit belajar dari pengalamanku hingga aku paham akan diriku sendiri. Dari belajar ini kau bakal paham apa yang ingin kau capai dan bagaimana cara mencapainya, dan tentu saja kau harus mengerjakannya sesuai rencana dan strategimu. Seperti motto hidupku, “A dreamer knows everything what the must do to get their own dream.” Alhamdulillah belajar yang telah kulakukan mengantarkanku pada wisuda magister di tahun 2018 ini. Alhamdulillah, semoga ilmu yang kudapatkan selama ini bisa menjadi ilmu yang bermanfaat. Aamiin. ✨

Well, judul tulisan kali ini aku mengambil quote dari para lulusan Cum Laude pada wisuda April 2018. Seperti yang pernah aku tulis sebelumnya bahwa “skripsi itu beres, kalau dikerjakan”, maka tesis pun beres kalau dikerjakan. Dari catatan wisudawan yang dibacakan oleh Wakil Rektor Akademik menunjukkan bahwa hal yang mau tak mau  dihadapi para graduate students adalah jatah tidur berkurang. Tentu saja penyebab utama berkurangnya jatah tidur adalah belajar konsep-konsep yang harus dipahami atau berkontemplasi tentang keabsahan metode penelitian yang bakal dilakukan atau analisis data yang masih berceceran karena adanya data tambahan atau memikirkan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan tesis. Dari tiga mahasiswa Cum Laude yang catatannya dibacakan menyatakan bahwa mereka tidak berlama-lama belajar, tapi sedikit-sedikit belajar. Memang pandai betul pemilihan diksinya. Paham, kan, maksud “sedikit-sedikit belajar”? Yha intinya intensitas mereka belajar itu sering. Tapi, kembali lagi bahwa gaya belajar setiap orang itu berbeda karena belajar yang dilakukan oleh seseorang hanya dimiliki oleh orang itu. Namun, pada akhirnya setiap mahasiswa memiliki caranya tersendiri untuk belajar hingga mencapai kelulusan yang telah diperjuangkan.

Bisa dibilang bahwa kelulusanku di tahun 2018 ini sebagai wisudawan yang lulus tepat pada waktunya. Memang ingin hati menyelesaikan kuliah selama empat semester, apa dayaku yang menempuh lima semester. Alhamdulillah, selama lima semester kuliah aku mendapatkan pengalaman dan petualangan seru yang mungkin tidak bakal ku dapat jika ku lulus empat semester. Tuhan selalu tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Sesederhana itu. Terima kasih, Yaa Rabb Allah SWT. Dari sudut pandangku untuk mewakili para wisudawan yang lulus tepat pada waktunya, ada banyak hal yang harus aku—kami—hadapi untuk sampai pada hari kelulusan ini. Persoalan yang kami hadapi tidak hanya konsep penting dan data penelitian, tapi persoalan finansial, social interaction dengan orang tua, dosen pembimbing, dan yang harus pintar-pintar dihadapi—diri sendiri. Bukan maksud mencari pembenaran, tapi memang benar setiap orang memiliki persoalan yang hanya bisa diselesaikan oleh orang itu sendiri. Jadi, kelulusan ini memang tepat pada waktunya karena kami baru bisa menyelesaikannya dengan lapang dada tanpa penyesalan dan tak ada drama untuk menyalahkan atau mendebat orang lain. This is pure, on our way.

Dari petualangan menuju kelulusan magister ini, aku belajar banyak hal, terutama pelajaran tentang hidup. Aku sedikit-sedikit belajar dan memahami bahwa kehidupan itu tentang pilihan, prinsip yang dipertahankan, dan perjuangan yang tiada akhir. Seperti yang dikatakan oleh ONE OK ROCK dalam lirik lagu Decision, “What’s best for you is less for me, it’s my decision”  itu benar adanya. Terkadang orang-orang menjustifikasi bahwa pendapat mereka itu yang benar karena pengalaman mereka yang telah lebih dulu terjadi. Namun, belum tentu pengalaman yang dialami oleh seseorang bakal terjadi pada orang lain yang berbeda. Bisa jadi pengalaman orang lain itu lebih baik pada kondisi yang sama, kan? Hanya Allah SWT yang tahu dan mengatur semuanya, setiap orang hanya bisa berprasangka baik, berdo’a, dan berusaha semaksimal kemampuannya. Seperti kata peribahasa, “Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai” bahwa hasil yang supercalifragilisticexpialidocious adalah sebuah bonus, poin pentingnya adalah berusahalah! Toh, kelompok Topi Jerami merasa senang-senang saja berpetualang di lautan meski eksistensi One Piece entah ada atau tidak ada. Bagi mereka, berpetualang mengarungi lautan dan melihat banyak tempat adalah tujuan utama mereka melaut. Mereka jadi terkenal dan dapat One Piece itu adalah bonus dari petualangan mereka. Itulah kenapa aku sangat suka One Piece 😏😌

Setelah kau melihat hasil yang kau panen, terkadang ada pikiran-pikiran lain yang mengusik dirimu. Terlebih orang-orang, lagi-lagi mereka melakukan justifikasi atas hasil panen yang sudah kau kumpulkan. Aku belajar bahwa “rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau”, tapi aku gak terlalu peduli, omong-omong. Biarlah rumput tetangga itu hijau, itu artinya mereka punya caranya untuk menumbuhkan rumputnya. Tak apa jika warna rumputmu itu biru atau ungu, sirami dan rawatlah ia sehingga rumput biru atau ungu itu tumbuh dengan subur. Gak ada yang salah dengan menumbuhkan rumput biru atau ungu itu. Allah SWT telah mengatur semuanya, jadi berusahalah! Melalui tulisan ini, aku mengingatkan pada diriku sendiri untuk terus belajar. Bumi sangat luas  🌎 🌍 🌏 dan kau harus mengenalinya dengan baik. Terkadang di saat belajar itu ada yang terlihat susah. Namun, susah itu sebenarnya karena belum dicoba. Cobalah terima dan pahami pelan-pelan, kamu bakal mengerti dan kamu pun dapat menyelesaikan belajarnya dengan benar. Jika kau berhasil menyelesaikannya, itu artinya kau telah melampaui dirimu sendiri hingga kau dapat memaknai bahwa belajar itu bukan untuk menyusahkanmu, tapi belajar itu membantumu untuk menjadi lebih kuat. Tenang. Kemungkinan manusia itu tak terbatas, asalkan kamu mengusahakannya—berusahalah mewujudkan mimpimu menjadi nyata! 😎 Jadilah pribadi pembalajar yang bermanfaat untuk kehidupan. Semoga sukses ⭐

 

 

Sebuah catatan yang didedikasikan pada sejarah 6 April 2018 di Sasana Budaya Ganesha. “You’re doing great.”

 

Salam,

P.S

Iklan

Satu pemikiran pada “Sebuah catatan: “Belajar itu gak perlu lama, tapi sedikit-sedikit belajar”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s