Suatu Kongko Ilmiah

Suatu sore ku mendapat sms dari nomor yang samar ku kenal. Saat itu kartu nomorku berada dalam modem yang sedang on sehingga pengirim sms tanpa nama, hanya berupa nomor. Beberapa nomor ku kenal karena sering berkirim pesan, sisanya terkadang ku pura-pura akrab padahal dalam hati menerka-nerka siapa si pengirim sms. Nah, sms yang ku dapat sore itu berisi sapaan kabar dan ajakan untuk kongko saat akhir pekan. Setelah mengamati nomor pengirim dengan saksama, ku yakin betul bahwa pengirim pesan tersebut adalah sahabatku yang sudah cukup lama kami tak bersua karena aktivitas pekerjaan. Sampai deal waktu dan tempat kongko sebenarnya ku masih menerka apakah pengirim pesan tersebut sama seperti yang kupikir atau bukan. Pada akhirnya ku kembalikan kartu nomor ke telepon seluler kemudian mengecek pemilik nomor si pengirim pesan. Ternyata, tebakanku benar. Pemilik nomor tersebut adalah sahabat yang ku maksud dalam pikiranku. It’s been a long time and I‘m glad to see my dearest friends.

Karena suatu hal, ku sungguh-sungguh telat datang. Untunglah sahabatku itu pemaaf. Ternyata sahabatku yang satunya juga belum tiba. Well, ku agak tertolong sedikit. Setelah anggota lengkap—hari ini hanya ada kami bertiga karena sahabat yang lain sudah pindah rumah ke daerah Jakarta karena menyesuaikan dengan daerah tempat kerja, sahabat yang lain sedang menjalankan aktivitas hariannya—kami berbicara tentang real life yang terlampau berbeda jika dibandingkan dengan masa SMA dulu. Well, bisa dibilang kami sudah bersahabat sejak kelas 1 SMA. Semoga persahabatan kami langgeng. Aamiin.

Ketika giliranku tiba untuk menceritakan aktivitas yang sedang kukerjakan, alur pembicaraan kami menjadi suatu kontemplasi mengenai rencana penelitianku. Ku hargai pengertian mereka pada rencanaku itu kemudian dengan lancar kami berkontemplasi tentangnya. Kontemplasi kami membahas tentang singkong. Setelah berdiskusi dengan dua sahabatku tersebut, bahasan tentang singkong pun jadi tampak nyata setelah sebelumnya agak samar bagi sebagian orang. Entahlah.

Ku ingin tahu bagaimana respons singkong setelah diberi stres lingkungan. Singkongnya terpapar polusi tinggi sama ku siram dengan air garam dapur. Manfaatnya apa? Dosen ‘role model’ ku pernah bilang bahwa Bumi ini udah tercemar. Isu paling beken tentang isu tersebut adalah global warming. Umumnya masyarakat dunia sudah mengetahui hal tersebut, tapi abai. Agaknya sudah jelas apa yang menjadi pemicu meningkatnya polusi udara yang mengandung karbon dioksida dan timbal itu, tapi mereka menutup mata. Isu berikutnya tentang intrusi air laut. Pernah dibahas sekilas di televisi, tapi tertimbun isu politik. Ya sudahlah. Intrusi air laut ini berkaitan dengan aquifer dan reservoir air. Pemicunya memang belum dikaji lebih lanjut, tapi bagi mereka yang mempelajari ecosystem water budget mungkin lebih familier dengan hal tersebut.

Polusi dan intrusi air laut adalah dua fenomena stres lingkungan yang bakal terjadi ‘in the future’ jika pada abai. Lalu, kaitannya dengan singkong? Nah, dua sahabatku ini keren. Mereka tahu betul azas manfaat. Adanya stres lingkungan tentunya membuat metabolisme seluruh makhluk hidup berubah, termasuk tumbuhan, yang ku sorot adalah singkong. Oke, setelah metabolisme singkong berubah, terus apa?

“Ya supaya ‘in the future’ kita tahu cara bagaimana supaya singkong tetap tumbuh meski metabolismenya berubah. Seperti itu, sis,” jelasku.

“Oh gue tahu manfaatnya. Buat melestarikan singkong keju, kan?”

“Nah, benar!” sahut sahabatku yang lain. “Bisa menyelamatkan peuyeum & colenak. Bisalah kerja sama dengan brand keripik singkong & tukang singkong keju pinggir jalan.”

Mataku berbinar. Ini benar-benar dua sahabatku itu jenius. Pikiran mereka itu out of the box. Aku setuju dengan mereka. Sungguh pemikiran yang nyata.

“Ide bagus, sis. Kalian luar biasa! Ku kasih dua jempol buat kalian, deh!”

#SelamatkanSingkong #SAVECASSAVA ‘in the future’. Official hashtag for (my) cassava research. Terima kasih ku ucapkan untuk sahabatku @/endahaheho dan @/bindafh atas diskusi luar biasa tentang manfaat penelitian ekofisiologi singkong. Berkat kalian, senyum ini mengembang dan singkongku pun nyata. Terima kasih. Kalian yang terbaik dalam urusan mood maker. Ku terharu.

Notula kontemplasi mengenai singkong dalam kongko ilmiah kami pun ku tulis dalam bentuk tweet pada akun @siswanopteryx yang tak ku sangka seorang sahabat semasa kuliah pun menanggapi hal tersebut dengan cukup serius.

@/echameisa menulis:
@siswanopteryx singkong aja bisa stres gimana homo sapiens…hehe. kk BDG 48

Nah, kan. Kak Echa malah prihatin dengan nasib manusia. Aku juga prihatin, ku yakin umat manusia juga prihatin, tapi ada yang benar-benar peduli, ada yang setengah peduli, dan ada juga tidak peduli sama sekali. Sungguh ku terharu melalui kongko ilmiah ini ternyata sahabat-sahabatku sangat peduli dengan alam. Salam hayati, sahabat! Semoga kita bisa melindungi Bumi di usia senjanya dengan baik.

 

 

 

@siswanopteryx pada 28 Agustus 2016.
Revisi 8 September 2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s