[Perspektif] You Must Be Strong

Gradualisme

Satu-satunya tujuan yang pernah terbesit dalam benak Baruna untuk pergi lintas provinsi adalah untuk menonton final pertandingan Liga Sepak Bola Indonesia di Stadium Gelora Bung Karno. Selain dari itu, Baruna tak pernah berpikir atau berkeinginan untuk mengujungi kota-kota besar lain yang diminati turis dalam negeri maupun turis asing seperti, Denpasar, Yogyakarta, atau bahkan Bandung—yang letaknya paling jauh dari kota Baruna berasal. Menurut Baruna, kota tempat tinggalnya ini sudah memfasilitasi hidupnya dengan damai, ia sama sekali tak sependapat dengan opini pribumi kotanya yang mengagung-agungkan kelebihan kota-kota lain—khususnya kota-kota besar—yang bakal menjamin kehidupan yang lebih baik. He don’t think so. Pepatah mengatakan bahwa ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’ dan itulah pemikiran yang tertanam dalam diri Baruna.

Memang benar jika siklus hidup rumput tidak sepanjang siklus hidup manusia. Wajar jika rumput tetangga selalu lebih hijau karena rumput-rumput yang mengalami absisi dengan cepat serasahnya didekomposisi oleh dekomposer untuk menjadi zat hara yang kemudian zat hara tersebut menyokong kehidupan biji untuk kembali menjadi rumput dalam waktu singkat. Perbedaannya dengan rumput di halaman sendiri adalah rumput di halaman jumlahnya hanya satu atau dua—bisa dihitung oleh jari—sehingga wajar jika halaman tampak tandus—alih-alih lebih hijau, hijau pun tidak.

Lalu, bagaimana caranya agar rumput di halaman bisa lebih hijau? Cara yang paling mungkin adalah si pemilik halaman pergi ke toko tanaman untuk membeli bibit rumput. Di toko tersebut, si pemilik berkonsultasi dengan penjaga toko  yang tak perlu diragukan lagi sarannya mengenai cara bercocok tanam yang tepat. Pengalaman mereka sudah teruji, terutama berdasarkan resume pengalaman pelanggan yang komplain atau bahkan memuji produk pertanian mereka. Banyak juga dari penjaga toko yang secara iseng ikut bercocok tanam di halaman rumah mereka yang seadanya sehingga saran pribadi pun bisa jadi saran berkualitas bagi pelanggan yang newbie dalam bercocok tanam.

“Semua barangnya sudah masuk koper, kan, Baru?”

“Iya, Bu.”

“Kemeja, kaos, celana pantalon, celana jeans—”

“Iya, Bu, semua jenis baju sudah aman di dalam koper.”

“Peralatan makan, mandi—”

“Sudah ada di dalam koper.”

“Al Quran dan sajadah?”

“Selalu siap.”

“Camilan?”

“Bu, Baru sudah packing selama seminggu. Ibu tidak perlu khawatir.” Butuh tiga puluh menit bagi Baruna untuk packing, hanya saja pengumpulan dan pemilihan barang-barang yang akan di-packing memakan waktu seminggu. Baruna tidak bohong.

“Hk.”

Terdengar suara isak yang tertahan. Wajah Ibu memerah yang beliau tutupi dengan sapu tangan. Beliau menatap lantai stasiun dengan air mata yang mulai berjatuhan dari pelupuk matanya. Ingin rasanya Baruna memeluk dan menenangkan Ibu tersayangnya, tapi Baruna bukan tipikal anak yang terbiasa dengan hal-hal romantisme seperti itu. Yakin setelah duduk di dalam kereta Baruna bakal menangis dengan wajah yang ditutupi oleh jaket yang dipakainya.

“Baru, keretanya sudah datang,” kata Bapak menghampiri Baruna kemudian membantu Baruna dengan membawa tas jinjing yang dibawa Baruna. “Kamu bisa bawa semua barang ini?”

“Bisa,” jawab Baruna. Antara bisa atau tak bisa, intinya Baruna harus bisa membawa koper, tas jinjing, dan kardus yang jumlahnya masing-masing satu. Barang-barang paling penting ada dalam backpacker-nya yang selalu menempel di punggungnya.

Kemudian tibalah saat yang ingin Baruna skip, bagian berpamitan. Baruna pamit pergi bukan dalam waktu yang lama, tapi tetap saja fakta bahwa Baruna tidak akan berada di rumah membuat perasaan seorang Ibu agak khawatir, terutama putranya tersebut baru pertama kami berpergian jauh seorang diri selama hidupnya.

“Pak, Bu, Baru pamit,” Baruna berusaha keras tampak tenang.

Tangis Ibu pecah.

Baruna memilih menatap lantai stasiun, menempelkan punggung tangan ibu ke dahinya. Pipi Baruna memanas. Ibu memeluk Baruna dalam dekapannya. “Jaga kesehatan, Nak.” Ibu masih memeluk Baruna, anak lelaki tertua dalam keluarga kecilnya. “Semoga ilmunya berkah,” tambahnya kemudian melepaskan pelukannya pada Baruna.

“Aamiin,” kata Baruna mengamini. “Sehat selalu, Bu.”

Ibu tersenyum dan mengangguk, berusaha keras menahan tangisnya.

Baruna menatap Bapak yang sedang menatap kereta. Ah. Sosok pria di depan Baruna inilah yang menjadi  tolok ukurnya selama delapan belas tahun ini. Beliau adalah the one and only rival, bukan untuk dikalahkan, tapi Baruna harus membuatnya bisa memandang Baruna sebagai seorang  pria—karena Baruna bukan lagi seorang anak kecil yang harus selalu diawasi. Telapak tangan pria tersebut kasar,  menggambarkan betapa banyak pekerjaan keras yang sudah beliau lakukan dengan menggunakan tangan tersebut.  Berkat tangan inilah Baruna bisa bertahan hidup hingga saat ini.

Bapak hanya menggenggam tangan Baruna dalam diam, seperti yang Baruna duga. Jelas saja karena Baruna mewarisi sebagian gen miliknya, namun Baruna tak bisa memilih gen-gen mana saja yang ia inginkan sehingga Baruna harus lapang dada menerima secuil  gen yang bertanggung jawab pada perasaan yang terkait romantisme hanya bisa diekspresikan dalam jumlah rendah, seperti gen di master-nya.

“Berjuanglah, Nak,” suara bariton menggema di telinga Baruna. Pada nano detik itu Baruna sekuat tenaga menahan tangisnya, terlalu gengsi untuk tampak lemah di hadapan rival abadinya. “Kamu harus tangguh,” tambahnya sambil mengusap kepala Baruna.

Di kursi paling ujung gerbong empat dalam kereta tujuan Bandung, Baruna membenamkan wajah di lipatan kedua lengannya di atas backpack miliknya, menangis sejadi-jadinya.

 

 

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s