I know, everybody on this island has a role on this island
So maybe I can roll with mine

 

How Far I’ll Go by Alessia Cara
Iklan

Sebuah kontemplasi: Jika Lautan Mengamuk

Bahan tulisan ini adalah sebuah percakapan dari film Aquaman. Aku tahu Aquaman sejak film Justice League tahun 2017, oke, dia manusia berdarah campuran—setengah manusia dan setengah bangsa Atlantis. Barulah Desember 2018 ini DC x Warner Bros mengeluarkan film Aquaman. Nama asli Aquaman adalah Arthur, darah Atlantis didapatkan dari ibunya. Yha emang keren banget saat adegan Arthur kecil yang berbicara pada ikan-ikan di akuarium besar, keren gitu loh punya backing-an bangsa ikan!

Film Aquaman ini baru pendahuluan tentang kehidupan awal Arthur dan bagaimana dia kembali ke Atlantis. Arthur punya adik tiri beda ayah—namanya Orm—yang ingin jadi penguasa lautan. Alasannya dia bete punya kakak tiri berdarah campuran dan dia merasa dia yang paling berhak memegang kekuasaan Atlantis dan seluruh lautan karena dia berdarah murni Atlantis. Alasan lainnya adalah bangsa permukaan telah mencemari habitat bangsa laut sehingga ya wajar kalau bangsa Atlantis memperingati bahkan memulai perang dengan bangsa permukaan.

Alasan kedua Orm ini yang harusnya jadi bahan kontemplasi manusia di dunia nyata saat ini. Aku gak menyangka bahwa bakal muncul tema diskusi lingkungan di film Aquaman. Jadi teringat dengan kompetisi short story di Wattpad yang diadakah oleh National Geographic. Temanya Plastic or Planet. Memang apa yang dikatakan oleh Orm benar bahwa bangsa permukaan itu sudah mencemari lautan. Mereka membuang sampah dan juga limbah yang akhirnya mengalir ke laut. Mereka menggunakan perangkap peledak untuk menangkap ikan sekaligus berimbas ke rusaknya terumbu karang. Mereka membuat es kutub mencair akibat kegiatannya. Belum lagi ketika minyak yang dibawa kapal laut tidak sengaja tumpah, belum lagi keberadaan bangkai kapal yang tenggelam ke lautan. Memangnya ada makhluk hidup yang rela tempat hidupnya dicemari oleh makhluk hidup lain? Memangnya manusia diam-diam saja saat ada bangsa lain yang membuang sampahnya ke Bumi?

Baca lebih lanjut

Ketika aku punya kesempatan untuk berbicara pada diriku di masa lalu

Ketika aku punya kesempatan untuk berbicara pada diriku di masa lalu. Ah, terlalu banyak menonton film fantasy-science fiction. Awal tahun 2018 aja udah menonton K-drama “Longing Heart”. Drama tentang usaha memperbaiki keadaan di masa lalu biar masa kini lebih baik—soal percintaannya, omong-omong. Di pertengahan tahun aku menonton “ReLIFE” versi movie karena pemeran utamanya Taishi Nakagawa (line 97) karena doi tamvan kkk. Tidak sesederhana itu karena plotnya cukup menggeletik diriku. Sebenarnya film ini adaptasi dari webtoon berjudul sama yang terbit di Comico. “ReLIFE” ini menawarkan kesempatan kedua pada tokoh utama pria dalam menjalani kehidupan; apakah ia memilih kehidupan lama atau kehidupan barunya setelah kehidupannya  di-restart dari kelas 3 SMA. Hm, menarik. Di awal bulan Oktober ini aku menonton film “Be With You” dari versi originalnya (versi Jepang), yaitu “Ima, Ani Yukimasu” (2004). Awalnya nonton film ini karena ada cuplikan film “Be With You” versi Korea di YouTube yang menampilkan wajah familier yang menurutku punya visual di “Produce 101 season 2”, Lee Youjin. Cuplikan filmnya lucu karena menggambarkan kekakuan romantisme di masa remaja, apa lagi jika bukan masa SMA. Kepo tingkat tinggi hingga aku menontonnya. Filmnya tentang kesempatan kedua bertemu dengan orang terkasih. Hm.

Ketika aku punya kesempatan untuk berbicara pada diriku di masa lalu. Ah—tenanglah. Jangan dulu mendebat. Yha aku tahu bahwa tidak ada mesin waktu yang dapat memutar waktu ke masa lalu juga tidak ada mesin waktu yang dapat mengondisikan dirimu kembali ke masa remaja (sedangkan di waktu yang sama waktu yang sebenarnya sedang berjalan) atau  tidak ada mesin waktu yang membawamu ke masa depan. Aku tahu bahwa Waktu terus melangkah ke depan, tak akan pernah menoleh ke belakang. Tidak akan pernah! Lalu, untuk apa membicarakan masa lalu yang tak pernah kembali itu? Tidak bisakah aku berkontemplasi sejenak tentang masa lalu sebagai bahan evaluasi untuk masa mendatang? Okey. Lakukan sesukamu, asalkan kau mendapatkan pemikiran jernih yang dapat menginspirasi dirimu, bukan meratapi penyesalan yang kau miliki.

Baca lebih lanjut

Bukan Sekadar Fangirl

Berbicara tentang fangirl, di masa milenial ini sepertinya fangirl lebih dikenal sebagai sebutan untuk para remaja putri yang mengidolakan artis K-POP. Memang di tahun 2018 ini, aku sering melihat info-info tentang K-POP masuk ke dalam infotainment saluran tv swasta di Indonesia. Sebenarnya Korean-wave udah masuk ke Indonesia sejak lama, seingatku awal meledak ke khalayak sekitar tahun 2012 ketika Super Junior konser di Indonesia. Aku sendiri tahu K-drama dan K-pop dengan lebih detail saat awal masuk kuliah, tahun 2009. Sebelum tahun tersebut, aku udah pernah nonton drama, tapi ya selewat dan hanya menikmati ceritanya. Diriku gak sampai kepo tentang siapa pemerannya dan tahun berapa dia lahir hehehe. Menurut pengamatanku, di tahun 2018 ini K-wave merambah dunia kuliner, kosmetik, dan properti. Apa yang menyebabkan K-wave jadi populer? Secara tak langsung semua itu berawal dari penggemar yang menyebarkan info, berita, atau gosip mengenai aktor/cowok idola tampan dan aktris/idola cantik  yang mereka sukai. Awalnya khalayak yang belum kenal merasa hal itu aneh, gak jelas, dan mungkin mengganggu, tapi kenalannya tersebut merekomendasikan barang yang diiklankan oleh idola tersebut yang ternyata memang barangnya oke. Jadilah, khalayak yang belum tahu mulai cari info yang kemudian membuatnya jatuh ke dalam gelombang Korea… hanya sebatas di dunia hiburan saja ya, masalah eko-sos-pol, jangan!

Baca lebih lanjut

Sebuah catatan: “Belajar itu gak perlu lama, tapi sedikit-sedikit belajar”

Tidak perlulah menghitung berapa tahun yang telah kulalui untuk belajar. Pada dasarnya proses belajar menyertai semua orang selama ia hidup. Belajar itu menurutku suatu kegiatan yang menarik karena kamu bakal jadi tahu sesuatu—baik itu hal sederhana yang diabaikan orang atau hal detail yang berdampak besar bagi umat manusia—dari yang asalnya kamu tidak tahu eksistensi sesuatu tersebut ada. Ingatan tentang belajar membawaku bernostalgia saat masih sekolah dulu. Waktu TK aku sangat bersemangat mengerjakan PR matematika, aku sangat senang dan bangga bisa menyelesaikan sepuluh soal penjumlahan dan pengurangan. Asli itu baru sampai rumah langsung mengerjakan PR. Waktu SD, pelajaran matematika baru benar-benar menunjukkan taringnya. Aku ingat nilaiku dulu antara angka bebek atau angka kursi, aku tak pandai berbohong sehingga aku tak pandai beralasan. Tentu saja saat sesi interogasi oleh ibundaku perihal nilai yang tertera di buku pelajaranku beliau langsung murka. Tapi, selama yang aku ingat, aku tidak pernah benar-benar benci pada matematika. Waktu SMP kelas 1, bisa dibilang masa awal aku menyukai biologi tanpa kusadari, ketertarikanku pada biologi diawali dari membaca dengan sakasama mengenai klasifikasi makhluk hidup. Saat itulah momen aku mengenal porifera, coelenterata, vermes, arthropoda, moluska, dan echinodermata yang mengawali keingintahuanku tentang kehidupan di Bumi. “Oh, jadi…” atau “Pantas saja…” atau “Jadi mereka saling terkait?” adalah suatu celoteh kebahagiaan karena diri ini merasa selangkah lebih tahu dari sebelumnya 😎. Dan aku suka perasaan meletup-meletup penuh kebanggaan atas pengetahuan baru yang ku ketahui itu.

Baca lebih lanjut